Sejarah SMA POMOSDA

Pondok

Memenuhi amanat qaidah ketiga, bahwa guna memperdalam bekas dan pengaruh pendidikan serta mempererat tali kekeluargaan (disamping mengadakan penyiaran islam dengan bermacam-macam cara umpamanya mengadakan madrasah-madrasah dan sebagainya dimana pendidik dengan pihak yang dididik atau guru dengan murid hanya mempunyai kesempatan bergaul di kelas saja), harus
dipentingkan dan diutamakan: “adanya pendidikan cara pondok”, dimana kyai dengan santrinya atau guru dengan muridnya siang dan malam dapat bergaul dengan rapatnya.
Pendidikan cara pondok ini sudah dibuktikan oleh pengalaman. Bahwa ia itu adalah cara pendidikan yang mendalam, berpengaruh dan berjiwa, sehingga ro’ (=pendidik) dan ro’yahnya (=yang dididik) merupakan satu keluarga yang perasaan rohaniahnya diliuputi oleh mahabbah (=rasa kecintaan) yang besar yang menimbulkan rasa kekeluargaan yang suci.
Pendidikan cara pondok ini adalah guna memperdalamkan dan menjiwakan pengaruh dan bekas pendidikan dan kekeluargaan, sedang adanya madrasah adalah guna mempercepat langkah dan jalan tersebarnya pengajaran.
Dalam kedua-dua cara itu, dasar aturan pendidikan cara pondok harus dijalankan. umpamanya: melatih pelaksanaan akhlak mulia, melatih bersama-sama dalam ibadahnya, saling menolong, meringankan beban orang lain (masyarakat), hidup sederhana, memimpin diri pribadi (yakni: mengurus, menolong dan memerintah diri sendiri) dengan mengindahkan tuntutan pemimpin, mengutamakan beramal untuk kepentingan umum dengan tidak melupakan hak diri, hemat, hidup praktis (yakni tidak merasa sukar dimana saja), jangan mementingkan diri sendiri tetapi juga jangan tidak tahu hak diri dsb.
Kemudian untuk penyiapan dengan berbagai latihan supaya menjadi manusia yang mandiri menjadi sumber daya yang berkualitas, dewasa dab penuh percaya diri, pada qaidah nomor satu diamanatkan: “sokongan dan bantuan dari orang lain baru diterima jika tidak mengikat lahir maupun bathin dan capailah rasa hurriyah tammah (=jiwa yang merdeka sejati). menggantungkan diri kepada lain orang dijauhi benar-benar. ingatlah “yadul al ulya aula min yadi assufla”, artinya: tangasn yang diatas itu lebih mulia daripada tangan yang dibawah. tegasnya: “memberi lebih mulia daripada meminta”.
berkaitan dengan makna qaidah pertama diatas, pendiri Pondok Pesantren PSM di Tanjunganom (alm. Bapak Kyai Mohammad Kusnun Malibary) berwasiat kepada para muda yang ketika ditanya beliau jawabnya nganggur, “nganggur iku kancane syaitan”, kata belia. maka beliau lalu memberi petunjuk: ‘ndonya iku mosok angel to gus, sauger gelem ukril ya gempil, sing angel iku sejatine rak nek ora pikantuk pitulungane allah yaiku merangi nefsune dewe-dewe supaya gelem patuh lan tunduk didadekake tunggangan marak ing ngersae allah sahingga bisa tumeka”. Dalam pengelolaan dan pembinaan, pada qaidah nomor 2, 4, dan 5 telah diamanatkan.
Qaidah kedua: “pimpinan pendidikan yang ditakuti harus dijauhi. Yakni sedapat mungkin jangan dijalankan. sedangkan pimpinan yang dicintai dibiasakan, ingatlah pengaruh pendidikan berdasarkan mahabbah (=kecintaan) itu lebih besar dan lebih mendalam daripada pendidikan yang pengaruh pimpinannya ditakuti, oleh karena itu maka: rasa kekeluargaan diperkokoh dan diperkuat”.
Hanya dengan cinta, manusia bisa berkreasi. Cinta oleh Einstein disebut: “titik pusat gravitasi kesadaran emosional tempat terjadinya kreasi, cinta adalah panglima yang bisa mempersatukan segala nilai etik menjadi satu kesatuan yang dinamis dan harmonis”. Dan dikehendaki sebagai puncak rasa cinta adalah rasa cinta kepada dzat yang wajib wujudnya, al-ghaib, dekat sekali dengan hamba, yakni sang pencipta jagad seisinya, Allah SWT. rasa cinta demikian akan menumbuhsuburkan gairah dan semangat taat kepada rasullah sebagai jaminan untuk dicintai oleh-nya serta memperoleh ampunan yang besar.
Katakanlah: “jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah (juga akan selalu) mencintai dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron 31)
Qaidah keempat: “kita harus berusaha sekuat-kuatnya dapat menjalankan amal niatan “lii’lai kalimatilah” artinya menegakkan kalimat Allah semata-mata berdasarkan lillah, karena Allah. Dengan tak usah dan tak perlu kita melupakan soal keduniawian kita. Karena pekerjaan yang didasarkan atas niatan yang luhur dan suci berarti juga kemakmuran soal keduniawian. Dan pada hakikatnya: “pekerjaan yang didasarkan niatan demikian tentu menjamin kebahagiaan dunia akhirat”.
Dari itu: “pendidikan yang kita adakan, kita jalankan untuk Allah, menurut Allah, di jalan Allah dan karena Allah. setiap ro’ (=pendidik) mesti merasa: “kita bertanggung jawab terhadap diri pribadi, masyarakat dan yang terpenting terhadap tuhan”.
Qaidah keempat ini menetapkan bahwa ke-Ilahi-an harus dipandang sebagai referensi tertinggi dalam hierarki sistem referensi yang sifatnya mutlak. terhadap sistem referensi ke-ilahi-an inilah semua sistem referensu harus tunduk.
Qaidah kelima: “cara berbelanja diri sendiri (=self bedruiping sistem) sedapat mungkin harus dilakukan agar terlepas dari rasa menggantungkan diri kepada pertolongan orang lain. tetapi bekerja dalam lapangan pendidikan yang suci (agama) dengan “faham buruh” dilempar jauh-jauh agar karunia Allah terlimpah sebanyak-banyaknya dan agar kita lambat laun dapat mencapai pengabdian yang sempurna”.
Jadi: “adakanlah cara berbelanja diri sendiri tetapi jagalah jangan sampai cara itu dapat menyebabkan jauhnya apa yang kita kejar. yaitu: “mengabdi kepada Allah dengan pengabdian sejati murni. Kerjakanlah hal itu. Kebahagiaan dunia akherat terjamin sepenuhnya”.
Dalam qaidah kelima dengan jelas ditetapkan sebagaimana seharusnya pendidikan dijadikan arena membentuk manusia ideal. Bukan manusia homo economicus yang segala geraknya dinilai dengan uang sebab seluruh cipta angan-angannya telah dikuasai pamrih. Sehingga ibadahnya kepada Allah serta pengabdiannya menginginkan datangnya upah. ini adalah mental “faham buruh” yang harus dilempat jauh-jauh. Niatan demikian sama saja dengan mempersiapkan dirinya sendiri menjadi budak nafsu. Berdunia dengan watak akunya menjadikan diri menjadi manusia egois yang mengejar kepuasan konsumtif.
Kemudian qaiddah keenam dan ketujuh adalah qaidah yang menetapkan perihal barang-barang yang dijariahkan kepada pesantren bahwa barang-barang tersebut (baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak) supaya ditertibkan dengan administrasi yang baik. Barang-barang tersebut kembali kepada ahli waris menjaddi hak milik apabila:
a. Pesantren bubar
b. Tidak dipergunakan lagi oleh pesantren.
Sedang qaidah ke delapan menetapkan supaya keluhuran dan kemurnian jiwa pesantren terpelihara, jangan sampai segala kejadian peraturan pesantren menyimpang dari qaidah ini.