Sejarah SMA POMOSDA

Sumber Daya At-Taqwa

     Dalam qaidah ke sembilan telah ada pedoman namun harus disertai dengan kecermatan dan kesunggyhan guna mendalaminya secara benar. bunyi qaidah tersebut adalah sebagai berikut:” dengan sabar dan tawakkal kita harus dapat mencapai tingkat dan martabat rasa”.
Pengorbanan yang kita berikan untuk mendidik diri pribadi dan masyarakat harus kita berikan dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya sehingga pemberian pengorbanan kita itu tidak terasa lagi oleh kita. karena orang yang ikhlas mengabdi dan berkorban untuk Allah dan karena Allah itu tentu tidak merasa lagi berkorban dan berrbakti. Tetapi kelahirannya dan kebatinannya serta segala gerak-gerik orang yang demikian itu dimana saja dan kapan saja tentu berfaedah dan bermanfaat bagi orang lain (masyarakat).

Sabar dalam pendekatan makna sufi (bagaimana seharusnya membeningkan hati) adalah sebuah derajat atas pertolongan Allah SWT. sehingga dengan itu sendiri (sebagai wujud nafsu) agar selalu “mau” memenuhi kehendak dan amanat Allah dan rasul-nya. memberlakukan pada dirinya untuk terus menerus berjihadun nafsi (dengan ulet, tahan segala ujian dan cobaan, tidak kenal putus asa dan kecil hati, penuh harap atas kasih tuhannya demi cita-citanya untuk dapat selamat dan bahagia bertemu dengan diri-nya tuhan zat yang wajib wujud-nya, al ghaib dan Allah asma-nya. keadaan demikian akan menempatkannya pada martabat bagi para malaikat Allah yang rela berlaku sujud (kalmayyiti) di hadapan wakil-nya dan asma-nya ini) tak akan pernah ngejawantah di muka bumi. sekaligus sebagai wujud nyata dari pada jiwa dan semangat disiplin karena timbul dari keinsyafan dan kesadaran yang mendalam.
Kemudian tawakkal yang asal kata dari wikalah. Maknanya mewakilkan tawakkal kepada Allah berarti dengan sepenuhnya rasa dalam perasaannya mewakilkan segala perbuatan lahir bathinnya, gerak dan tingkah lakunya kepada diri-nya zat al-ghaib yang wajib wujud-nya. Demikian halnya terhadap seluruh daya dan kekuatannya serta apapun yang biasanya diaku oleh manusia sebagai miliknya. sama sekali tidak ada yang diaku masuk dalam “Allahu ashshomad”, bergantung dengan pasrah sepenuh hati kepada diri-nya. Rasa jiwa yang selalu segar dalam sibghatAllah ( di dalam celupan Allah).

Hal demikian terjadi karena pertolongan Allah semata atas dibukanya nafsu dan juga hati nuraninya terhadap penjelasan nabi Muhammad SAW (al-hadits). Bahwa ketika seorang telah genap seratus dua puluh hari dalam kandungan sang ibu (telah berupa segumpal daging) lalu ditiupkan didalamnya roh dari diri-nya yang selanjutnya telah ditetapkan tulisan tentang rizkinya, umurnya (azalnya), amal perbuatannya serta nasib baik buruknya. oleh karena seseorang tak akan tahu betapa nasib dirinya dan supaya sepenuhnya bergantung diri dan pasrah sepenuh hati kepada sang penentu segalanya maka nabi muhammad saw dengan sabdanya melanjutkan bahwa meskipun seseorang telah mengamalkan amal perbuatan ahli surga sehingga antar dia dan surga itu tidak ada sehesta jaraknya (saking dekatnya), akan tetapi tulisan telah menetapkan bahwa dia adalah ahli neraka lalu mengerjakannya, maka masuklah ia menjadi ahli neraka. Demikian pula sebaliknya. Meskipun seseorang telah mengamalkan perbuatan sebagai ahli neraka sehingga ia dengan neraka tidak ada satu hesta (saking dekatnya) akan tetapi tulisan telah menetapkan bahwa dia adalah ahli surga lalu mengamalkannya maka masuklah dia menjadi ahli surga.

Karena itu qaidah dan akhlak adalah bagai sebuah daun sirih. Meski dibolak-balik tidak sama, namun apabila digigit sama rasanya. Aqidah tentang tauhid guna mengenali diri-nya zat yang satu-satunya yang wujud dan yang ada dengan itu selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati kapan saja, dimana saja dan sedang apa saja. Kemudian akhlak yang tumbuh dari ilmunya yang bermanfaat. Yakni “huwa maayu’aarifuka min ‘uyubi nafsika min hubbi ad-dunya wa afaati ‘amalika”. Dengan ilmunya yang bermanfaat itu seseorang akan selalu tahu terhadap aib dirinya, aibnya kumantil dunia serta mengetahui bencananya amal bak api membakar kayu kering. yaitu takabbur, riya’, sum’ah dan ujub.

Tarbiyatul Mu’allimin Al Islamiyah

     Sebagaimana diketengahkan dari penjelasan di atas bahwa proses yang hendak dituju dan dicapai oleh pondok modern sumber daya at-taqwa dengan pelaksanaan proses belajar yang diberi nama tarbiyatul mu’allimin al-islamiyah, mendidik, membimbing dan mengarahkan menjadi insan ulul albab. satu sisi benar-benar terjamin tercapainya pengenalan terhadap ada dan wujud diri-nya zat al-ghaib Allah asma-nya sehingga dengan demikian akan terdidik dan terlatih mempunyai hati nurani, roh dan rasa yang senantiasa mengingat-ingat dan menghayati ada dan wujud diri satu-satunya zat al-ghaib yang wajib wujud-nya dan Allah asmanya ini kemudian “wayatafakkaruna fi kholqissamaawati wal ardhi maa kholakta haadza baathila”. Mendidik dan melatih terhadap kesiapan generasi untuk menguasai sains dan teknologi.