” Peringatan Hari Besar Nasional “

” 77 Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat “

Agustus tahun ini seperti sebuah penantian panjang yang dinanti-nantikan oleh rakyat Indonesia karena di Agustus tahun ini kita baru bisa merayakan hari kemerdekaan dengan meriah setelah hampir empat tahun kita dipaksa diam tanpa perayaan karena pandemi.

Ini seperti ajang belas dendam setelah lama tak ada perayaan Agustusan. Berbagai acara diadakan. Lomba-lomba kembali diadakan, karnaval kembali disemarakkan, upacara 17-an kembali digaungkan. Semua suka cita menyambut datangnya bulan kemerdekaan bangsa kita. Bahkan hampir seluruh pelosok daerah mengadakan pesta rakyat dengan standart dan kekhasan mereka masing-masing. Mulai dari RT/RW, desa, kecamatan, kabupaten bahkan provinsi

Perlombaan seperti contoh balap karung, gobak sodor, makan kerupuk, dan banyak lainnya adalah alat bagi rakyat kita memupuk jiwa persaudaraan, gotong royong, guyub rukun, dan kebersamaan agar lebih tumbuh dan menyatu dalam diri.

Agustusan tidak afdal jika tanpa karnaval. Karnaval menjadi pesta rakyat karena di sana segala potensi dimunculkan. Potensi budaya, potensi skill, potensi sekolah di tiap daerah, serta potensi ekonomi tiap daerah. Karena di sana adalah ajang memamerkan itu semua sebagai kekayaan Indonesia seperti pakaian adat, hasil bumi, seni tari, tata rias, dan tata busana.

Kegiatan karnaval menjadi simbol bahwa Indonesia memiliki keberagaman yang sangat luas dan kaya dengan potensinya

Di Tanjunganom Nganjuk, POMOSDA mengikuti karnaval tingkat kecamatan yang bertema ” 77 Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat ” sebagai penyemangat bangsa kita agar segera pulih dari keterpurukan akibat pandemi di tahun-tahun sebelumnya.

Pomosda di tahun ini menyajikan sebuah pemandangan yang berbeda di acara karnaval.

Memang sudah menjadi kegiatan sehari-hari bahwa santri Pomosda dengan ciri khasnya, pemanfaatan lahan sela dengan hasil bumi yang bisa disajikan kepada seluruh penonton. Yang membuat beda kali ini adalah Pomosda memiliki barisan khusus. Mereka menyebutnya, SAPU JAGAD.

Ya, Sapu Jagad adalah barisan pemungut sampah yang berceceran di jalan. Squad ini menjadi perhatian tersendiri bagi penonton. Bahkan terdengar komentar dari mereka, “wah, keren sekali idenya… .”

Karena selama ini yang terjadi ketika karnaval adalah sampah berserakan dan memenuhi jalan. Dan sama sekali tidak diperhatikan penonton bahwa itu adalah kebiasaan tidak baik bagi ganerasi bangsa kita. Karena membiasakan membuang sampah sembarangan. Bukankah itu bisa mengganggu jalan? Dipandang pun juga tidak sedap di mata

Maka panitia karnaval Pomosda mencetuskan ide itu, untuk menggugah kesadaran masyarakat, agar peduli dengan lingkungan. Ini wujud dari menghargai lingkungan, menghargai alam, menghargai bumi tercinta kita yang kita makan darinya, mati pun dengannya.

Karya, Ustadz. Ali Makrup, S. T.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *