POMOSDA yang Mengubah Jalan Hidupku

POMOSDA yang Mengubah Jalan Hidupku

Agung Setiyo Wibowo

Hidup adalah memilih.
Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai disana.

    Halo, hai semuanya. Perkenalkan aku Agung Setiyo Wibowo. Aku adalah salah satu alumni POMOSDA angkatan 9 yang lulus di tahun 2007. Bagiku, lima tahun menjadi bagian dari keluarga besar POMOSDA adalah salah satu episode terbaik dalam hidup. Sebuah perjalanan yang awalnya tidak kuinginkan tapi di kemudian hari justru sangat kusyukuri. Beginilah sepenggal kisah hidupku di Tanjung

Mengapa POMOSDA?

    Aku lahir dan besar di Dusun Sumberjo, Desa Ginuk, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan. Kedua orang tuaku adalah buruh tani yang memiliki sepetak tanah dengan luas tak seberapa. Ayahku mati-matian banting tulang untuk bekerja apa saja agar dapur tetap mengebul. Mulai dari menjadi buruh tebang tebu di musim giling, mengumpulkan batu kerikil di kali, menjadi buruh di sawah tetangga, mengumpulkan daun jeruk purut dan tentu saja menjadi kuli serabutan.

    Sejak kecil, aku selalu diberikan wejangan oleh ayahku untuk belajar sebaik mungkin
untuk mengubah nasib. Itu mengapa sebelum menjadi santri POMOSDA, aku menjadi
pengembala domba untuk membiayai sekolahku. Menemani domba-domba merumput dipinggiran sawah sudah menjadi rutinitas sepulang sekolah dari SD hingga SMP.

    Sejujurnya, aku tidaklah sepintar yang kebanyakan orang kira. Hanya saja, mungkin aku jauh lebih giat belajar dibandingkan kawan-kawanku. Aku senantiasa menyempatkan diri belajar di sela-sela menggembala domba di sawah dan sepulang sembahyang Isya’ maupun selepas sembahyang Subuh. Alhasil, aku senantiasa menjadi Juara Kelas.

    Selulus SMP, salah satu guru SMP-ku bertamu ke rumah orang tuaku di akhir pekan. Sayangnya, aku tidak bisa menemui beliau karena aku sedang menggembala domba di sawah. Menurut penuturan ayah, aku disarankan oleh guruku untuk masuk ke salah satu SMA Negeri terbaik di Kota Madiun karena aku dianggap memiliki “potensi” untuk bersinar terang di kemudian hari.

    Aku pun meminta orang tuaku untuk mengikuti saran guruku. Namun, orang tuaku melarangku untuk menjadi pelajar di Kota Madiun dengan alasan keterbatasan finansial. Beliau memintaku untuk menjadi santri POMOSDA karena biayanya yang terjangkau tapi menawarkan pengalaman pembelajaran berkualitas tinggi.

    Di hari pertamaku menginjakkan kaki di POMOSDA, aku diajak ayahku untuk bertemu dengan Bapak Dzoharul Arifin yang waktu itu menjadi Kepala Sekolah. Rupanya, ayahku mengajukan “keringanan biaya” untuk studiku selama di pondok. Seingatku, ayahku hanya bisa membayar sepertiga dari biaya yang seharusnya dibayarkan. Alhamdulillah, permohonan tersebut dikabulkan. Aku pun tercatat sebagai Santri Asuh mulai tahun ajaran 2003/2004.

    Sebagai anak asuh, aku memiliki kewajiban ekstra dibandingkan santri kebanyakan yang dijadwalkan secara berkala. Salah satunya adalah membantu Tim Bulek Rohmi di dapur untuk membersihkan dan memotong sayuran yang akan dimasak di keesokan harinya. Oleh karena itu, akvititas rutin ini biasanya aku lakukan bersama para Santri Asuh lainnya di malam hari.

    Sebagai santri yang datang dari keluarga menengah ke bawah tidaklah gampang untuk menyesuaikan diri di POMOSDA. Minimnya uang saku yang kuperoleh dari orang tua mendorongku untuk menghemat pengeluaran semaksimal mungkin. 

    Selama di pondok; aku hanya membeli barang-barang yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan. Sebagai dampaknya, aku yang tidak pernah jajan di kantin sama sekali selama di pondok pernah mendapatkan perundungan dari salah satu penjaga kantin dan teman-temanku sendiri. Pengalaman tersebut sempat membuatkan “down”, namun perlahan-lahan aku memandangnya dari sisi yang berbeda. Aku ingin membuktikan bahwa aku harus berprestasi meski terlahir dalam kemiskinan.

Menikmati Belajar di "Penjara Suci"

Sejak hari pertama menjadi santri POMOSDA, aku bersumpah untuk tidak menyia-nyiakan masa studiku. Apalagi, aku memiliki “beban” sebagai Santri Asuh. Aku tidak ingin mengecewakan ayahku maupun Pimpinan Pondok yang telah menerimaku sebagai santri.

    Padatnya aktivitas di pondok, begitu kunikmati. Dari makan di dapur, mengaji, menghafalkan kosa kata, belajar di malam hari, piket kebersihan, ronda malam, lari pagi, jalanjalan santai, peringatan hari besar Islam, dan masih banyak lagi.

    Di POMOSDA, aku tidak hanya belajar di kelas. Namun, aku juga dibebaskan untuk memilih Program Vokasional yang beraneka ragam. Waktu itu aku mengambil Elektronika dan Persablonan di dua tahun yang berbeda. Meskipun kini aku sama sekali tidak menerapkan keterampilan tersebut, pengalaman itu mengajarku untuk fokus untuk menekuni potensi, bakat atau kekuatan diri sendiri – bukan “menambal” kekurangan atau kelemahan.

    Kewajiban untuk memakai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam komunikasi seharihari di asrama mungkin menjadi “momok” yang dibenci oleh banyak santri. Tapi, bagiku justru menjadi “oase” karena aku menemukan “duniaku” di bidang itu. Berbagai piagam yang berhubungan dengan bahasa seperti pidato, debat, maupun cerdas cermat yang kuperoleh dari berderet perlombaan di tingkat Kabupaten Nganjuk maupun Provinsi Jawa Timur di kemudian hari menjadi “modal” untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dan berkarier.

    Aku sangat sadar bahwa definisi kesuksesan setiap santri berbeda-beda. Namun bagiku, mengharumkan nama POMOSDA melalui kemenangan dalam berbagai perlombaan merupakan salah satu indikatornya. Meskipun aku selalu memegang prinsip bahwa hasil akhirbukanlah tujuan. 

    Puncak dari kebanggaanku sebagai seorang santri adalah ketika dinobatkan sebagai Siswa Berprestasi (Teladan) tingkat SMA Kabupaten Nganjuk 2005. Dari situ aku dipercaya untuk mewakili Bumi Anjuk Ladang untuk perlombaan serupa di tingkat Jawa Timur. Pengalaman itu menyadarkanku bahwa hidup bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain, melainkan berkompetisi dengan diri sendiri. Yaitu untuk mengalahkan keraguan,
ketakutan, kebingungan, dan kegalauan yang bersemayam dalam diri.

Terima Kasih POMOSDA

Secara formal, aku lulus dari SMA POMOSDA di tahun 2007. Ikhtiar untuk mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama untuk kuliah di Universitas Airlangga jurusan Kedokteran dan di Politeknik Keuangan Negara STAN jurusan Bea Cukai di tahun itu belum mendapatkan “approval” dari Allah. Akibatnya aku sempat merasa hancur, terpuruk, gagal, menyalahkan diri sendiri dan di titik terendah dalam hidup karenanya.

    Setelah beberapa saat menenangkan diri di Magetan, perlahan-lahan aku bisa menerima takdir-Nya. Aku menjadi tersadarkan bahwa skenario-Nya selalu yang terbaik. Tak ingin berlama-lama mengingat “kegagalan” mendapatkan beasiswa, aku mengikuti ajang Pemilihan Duta Wisata “Bagus-Dyah” Kabupaten Magetan. Berkat perjuangan berdarahdarah (dan tentu saja karena takdir-Nya), aku memenangkan kompetisi tersebut dan berhak
maju ke Pemilihan Duta Wisata “Raka-Raki” Provinsi Jawa Timur bersama dengan pasanganku. Pengalaman mengikuti kontes Raka-Raki Jawa Timur membuatku “mejeng” di Jawa Pos TV, koran Jawa Pos dan berbagai media lain yang di kemudian hari melambungkan namaku. Menurutku, keterampilan berbahasa Inggris dan beretorika yang kuperoleh dari POMOSDA memiliki andil besar dalam prosesnya.

    Singkat cerita, aku memutuskan untuk menjalani Masa Pengabdian di POMOSDA per Agustus 2007. Pilihan tersebut kutempuh karena aku ingin mempersiapkan diri untuk mengejar beasiswa di tahun 2008. Alhamdulillah, aku diberi amanah untuk mengurus Perpustakaan yang kupandang sebagai “Surga” karena kegemaran akutku untuk membaca buku.

    Pada Agustus 2008, aku meninggalkan POMOSDA karena mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina Jakarta. Keberuntungan tersebut mungkin tidak pernah menghampiriku andai aku tidak mendampingi para santri membaca di perpustakaan. Pasalnya, aku mendapatkan info beasiswa tersebut dari koran yang memang menjadi salah satu koleksi perpustakaan.

Bagiku POMOSDA tidak hanya membekaliku untuk “menaklukkan dunia” dengan ilmu-ilmu duniawi yang berfaedah guna mengejar kesuksesan. Namun, yang lebih penting POMOSDA membekaliku untuk “menaklukkan diri sendiri” yang merupakan kunci dari kebahagiaan hakiki.

   Agung Setiyo Wibowo lahir di Magetan pada 28 Februari 1988.
Ia adalah seorang People Developer dengan pengalaman 11+ tahun di bidang komunikasi pemasaran, konsultasi manajemen dan pengembangan sumber daya manusia. Ia adalah seorang penulis 30+ buku best-seller yang telah menyabet berderet penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Ia kerap kali diundang sebagai pembicara pada beragam topik dari kepemimpinan, politik, hingga manajemen perubahan di puluhan kota di Asia-Pasifik. Di waktu senggang ia menulis di Kolom Kompas.com dan di blognya sendiri www.agungwibowo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *