Sambung Rasa

” Sambung Rasa Bersama Anggota Sayyidah Maryam (XII Putri) “


Siang yang dibalut panas terik matahari kini mulai diselimuti awan yang mendung. Namun bukan berarti akan turun hujan. Terdengar langkah demi langkah santriwati beriringan memasuki ruang yang sudah tertata rapi. RKB…ya Ruang Kelas Baru biasa kami menyebutnya, meskipun sudah terbilang tidak baru lagi alias terpakai sudah cukup lama tetapi kami masih melekat dengan sebutan RKB.

Kini ruangan sudah mulai dipenuhi oleh santriwati Sayyidah Maryam, pertanda sambung rasa akan segera dimulai. Empat puluh tiga anak mengikuti agenda ini dan sepuluh lainnya belum bisa bergabung karena sakit dan pulang.

Salam pembuka dari Ibu Waka Asrama sudah mulai terdengar. Hening bercampur sunyi dalam ruangan ini mendengarkan dan mencerna kata demi kata, kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh Beliau.
Pesan yang berisikan bagaimana kita harus bersikap, bertindak, dan mengelola diri beserta lingkungannya. Tidak lain tidak bukan untuk kebermanfaatan diri khususnya dan orang lain.

Ditayangkan juga 2 film pendek yang bisa menginspirasi dan memotivasi dari kisah hidup yang ada dalam film tersebut. Dengan seksama anak-anak menonton film yang ditayangkan sampai selesai. Ada pesan yang bisa diambil dari film itu bahwa kita harus selalu bersyukur dalam kondisi apapun dan mampu mengendalikan nafsu yang ada dalam diri.

Tidak cukup sampai di sini, Ustadzah Nanik lalu memberikan instruksi kepada anak-anak untuk memejamkan mata seraya mengingat kesalahan apa yang sudah diperbuat begitu juga kebaikan apa yang sudah dilakukan. Setelah beberapa menit terpejam, terdengar instruksi untuk membuka mata masing-masing. Kemudian kami membagikan selembar kertas. Anak-anak di minta untuk menuliskan apa yang terlintas di benak mereka saat mata terpejam tadi. Tidak sebatas itu, mereka juga bisa menuliskan apapun yang ingin mereka luapkan. Tangan mereka mulai bergerak merangkai kata dengan bahasa mereka sendiri. Diiringi alunan musik instrumental menambah keseriusan mereka beradu kata. Selang beberapa menit, terlihat anak-anak mulai mengumpulkan tulisan mereka kepada Ustadzah Nanik. Terus dan terus kami tunggu sampai akhirnya semua lengkap mengumpulkan tulisan mereka.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.49 WIB, sebelum agenda diakhiri, Ustadzah Nanik menyampaikan pesan dari Ibu Nyai untuk anak-anak. Pesan yang menurut kami tidak hanya diperuntukkan untuk mereka tetapi juga sebagai pengingat untuk diri kami dalam menjalani lakon kehidupan ini.

Beberapa point penting yang dapat diambil antara lain :

1). Jangan jadi dementor, jadilah teladan untuk diri sendiri dan orang lain

2) Cobaan/ujian hidup ada di mana-mana, jangan menyia-nyiakan waktu

3) Jangan menyesal di kemudian hari

4) Kasus remaja (nikah dini) tercatat banyak di KUA maka dari itu utk bisa menjaga/ berhati-hati dengan diri sendiri” itu pesan yang masih tersimpan dalam ingatanku.

Dengan memohon ampun dan pangestu Romo Kiai, agenda sambung rasa ini diakhiri. Satu per satu anak-anak berjabat tangan kepada kami. Kami balas dengan memberikan dekapan, pelukan hangat tulus dari hati kami. Penuh haru biru, linangan air mata, ucapan maaf. Terlihat mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Semangat berproses Nak… dan tidak ada kata terlambat untuk instropeksi diri. Semoga menjadi anak sholehah dan kader yang dikehendaki GURU. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

Karya,
Ustadzah. Aida Muslikah Rosadi, S.PD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *